GURU AGAMA DI ERA DIGITAL Baru
Harga Rp 145.000 Rp 125.000
Stok Tersedia (98)
Ilmu Pendidikan

GURU AGAMA DI ERA DIGITAL

tantangan Peluang dan Inovasi Pembelajaran

ISBNxxx-xxx-xxx-xx-x
EdisiEdisi Pertama
Tahun Terbit2026
Halaman199 Halaman
Ukuran15,5 x 23
Berat250 gram
Buku "Guru Agama di Era Digital: Tantangan, Peluang, dan Inovasi Pembelajaran" yang ditulis oleh Ahmad Durul Napis M.M., M.Pd. dan Imam Buchori, M.Pd.I., diterbitkan pada bulan Mei 2026, menyajikan panduan komprehensif mengenai transformasi pendidikan agama di abad ke-21. Buku ini hadir untuk merespons gelombang disrupsi teknologi yang menuntut pergeseran paradigma pembelajaran dari metode konvensional menuju ekosistem digital interaktif yang lebih sesuai dengan karakteristik peserta didik Generasi Z dan Alpha.
Adapun poin-poin gagasan utama yang dibahas di dalam buku ini meliputi:
• Tantangan dan Pergeseran Peran Guru: Di era informasi yang tanpa batas, peran guru agama telah bergeser dari sekadar menjadi satu-satunya sumber pengetahuan ("sage on the stage") menjadi seorang fasilitator dan pemandu siswa ("guide on the side"). Hal ini menuntut penguasaan literasi digital dasar, keterampilan pedagogik berbasis teknologi (TPACK), serta kemampuan menavigasi ancaman siber seperti hoaks, radikalisme agama, cyberbullying, dan kesenjangan akses digital.
• Inovasi Metode dan Media Pembelajaran: Buku ini mengeksplorasi secara praktis metode pengajaran modern seperti Blended Learning, Flipped Classroom, Project-Based Learning, Gamification, dan Microlearning untuk menanamkan konsep agama secara mendalam namun menyenangkan. Pendidik didorong untuk mendesain konten multimedia seperti podcast, infografis, dan video edukatif, serta memanfaatkan Virtual Reality (VR) maupun Augmented Reality (AR) untuk visualisasi sejarah agama.
• Asesmen dan Desain Instruksional: Evaluasi pembelajaran di ruang kelas virtual perlu bergeser pada konsep asesmen autentik. Buku ini membahas cara mengukur aspek afektif dan spiritual siswa melalui portofolio digital, penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi evaluasi, dan penyusunan modul ajar digital yang kontekstual dengan tetap mengedepankan nilai-nilai kejujuran.
• Kolaborasi Sinergis Ekosistem Pendidikan: Penanaman akhlak tidak bisa dibebankan kepada guru saja. Terdapat penekanan kuat pada pentingnya membangun ekosistem holistik melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Peran krusial orang tua ditekankan melalui pendampingan digital (digital parenting), yang juga didukung oleh komunikasi yang efektif antara guru, wali murid, dan tokoh agama lokal.
Secara keseluruhan, buku ini menyimpulkan bahwa teknologi hanyalah sebatas instrumen pendukung, sedangkan aktor penentu utamanya adalah pendidik dan peserta didik itu sendiri. Masa depan pendidikan agama sangat bergantung pada resiliensi (ketangguhan) guru, komitmen pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning), dan kemampuan untuk memadukan kemajuan rasio algoritma dengan kelembutan nurani agama demi melahirkan peradaban yang beradab.