Humaniora
SEJARAH PEMIKIRAN DALAM ISLAM
| ISBN | xxx-xxx-xxx-x-xx |
| Edisi | Edisi Pertama |
| Tahun Terbit | 2026 |
| Halaman | 260 Halaman |
| Ukuran | 15,5 x 23 |
| Berat | 400 gram |
Peradaban Islam tidak pernah dibangun di atas fondasi dogma yang bisu, melainkan lahir dari rahim dialektika intelektual yang terus berdenyut merespons pergantian zaman. Buku ini hadir sebagai sebuah pemetaan komprehensif yang merekam jejak panjang perjalanan pemikiran Islam, membentang dari era kejayaan rasionalitas klasik hingga pusaran disrupsi teknologi di abad ke-21.
Pada bagian awal, pembaca akan diajak menyelami panggung keemasan filsafat Islam, menyaksikan bagaimana raksasa pemikir seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd merajut harmoni antara akal demonstratif Yunani dan wahyu tauhid. Namun, sejarah tidak selalu bergerak linier. Buku ini secara kritis membedah anatomi kemunduran peradaban Islam—ditandai oleh trauma kejatuhan Baghdad, tertutupnya pintu ijtihad, menguatnya tradisi taqlid, hingga dominasi teologi fatalisme yang sempat melumpuhkan daya juang umat.
Keterpurukan tersebut nyatanya bukanlah akhir dari sejarah. Melalui analisis historis yang tajam, karya ini mengupas kebangkitan kembali kesadaran umat melalui gelombang pembaruan (Tajdid). Mulai dari puritanisme pramodern, perlawanan anti-kolonialisme dan Pan-Islamisme gagasan Jamaluddin al-Afghani, hingga modernisasi pendidikan ala Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, buku ini menyoroti bagaimana umat Islam merebut kembali kedaulatan epistemologisnya.
Lebih dari sekadar narasi masa lalu, buku ini meletakkan jangkar diskursusnya pada tantangan pemikiran Islam era kontemporer. Di tengah kepungan arus globalisasi, pembaca akan disuguhkan pergumulan intelektual Muslim dalam merespons isu-isu mutakhir: kompatibilitas Islam dengan Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM), dekonstruksi patriarki melalui gerakan Feminisme Islam, proyek integrasi keilmuan, hingga navigasi etika berhadapan dengan Kecerdasan Buatan (AI) dan rekayasa genetika.
Ditulis dengan pendekatan transdisipliner yang mendalam, buku ini menawarkan sebuah kesimpulan yang optimis: masa depan peradaban Islam terletak pada paradigma Wasathiyah (moderasi). Sebuah kerangka berpikir yang menolak ekstremisme radikal maupun sekularisme buta, demi mewujudkan Islam yang progresif, inklusif, dan senantiasa menjadi Rahmatan lil 'Alamin. Karya ini adalah bacaan wajib bagi akademisi, mahasiswa, dan pemikir yang merindukan renaisans intelektual di dunia Islam.
Pada bagian awal, pembaca akan diajak menyelami panggung keemasan filsafat Islam, menyaksikan bagaimana raksasa pemikir seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd merajut harmoni antara akal demonstratif Yunani dan wahyu tauhid. Namun, sejarah tidak selalu bergerak linier. Buku ini secara kritis membedah anatomi kemunduran peradaban Islam—ditandai oleh trauma kejatuhan Baghdad, tertutupnya pintu ijtihad, menguatnya tradisi taqlid, hingga dominasi teologi fatalisme yang sempat melumpuhkan daya juang umat.
Keterpurukan tersebut nyatanya bukanlah akhir dari sejarah. Melalui analisis historis yang tajam, karya ini mengupas kebangkitan kembali kesadaran umat melalui gelombang pembaruan (Tajdid). Mulai dari puritanisme pramodern, perlawanan anti-kolonialisme dan Pan-Islamisme gagasan Jamaluddin al-Afghani, hingga modernisasi pendidikan ala Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, buku ini menyoroti bagaimana umat Islam merebut kembali kedaulatan epistemologisnya.
Lebih dari sekadar narasi masa lalu, buku ini meletakkan jangkar diskursusnya pada tantangan pemikiran Islam era kontemporer. Di tengah kepungan arus globalisasi, pembaca akan disuguhkan pergumulan intelektual Muslim dalam merespons isu-isu mutakhir: kompatibilitas Islam dengan Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM), dekonstruksi patriarki melalui gerakan Feminisme Islam, proyek integrasi keilmuan, hingga navigasi etika berhadapan dengan Kecerdasan Buatan (AI) dan rekayasa genetika.
Ditulis dengan pendekatan transdisipliner yang mendalam, buku ini menawarkan sebuah kesimpulan yang optimis: masa depan peradaban Islam terletak pada paradigma Wasathiyah (moderasi). Sebuah kerangka berpikir yang menolak ekstremisme radikal maupun sekularisme buta, demi mewujudkan Islam yang progresif, inklusif, dan senantiasa menjadi Rahmatan lil 'Alamin. Karya ini adalah bacaan wajib bagi akademisi, mahasiswa, dan pemikir yang merindukan renaisans intelektual di dunia Islam.